Pendidikan Afeksi Dalam Menyiapkan Generasi Milenial

Minggu, 31 Maret 2019, 00:00:07 WIB - 43 View
Share

Dua puluh tahun yang akan datang pendidikan tidak lagi ditujukan untuk collecting pengetahuan karena pengetahuan sudah bisa didapatkan dan diakses melalui chip, yang menyediakan big data tentang apapun yang dibutuhkan oleh manuasia. Pendidikan akan lebih diorientasikan untuk menyiapkan karakter building. “Lantas apa hubungan pendidikan Afeksi dengan generasi milenial?” pertanyaan inilah yang dilontarkan oleh Nur Nadhifah salah satu peserta bedah buku yang diselenggarakan oleh DEMA STIT Raden Santri pada hari MInggu, 31 Maret 2019 di Aula SDNU Gresik.

Bedah buku yang berjudul “Membentuk Karakter Melalui pendidikan Afeksi” menghadirkan penulisnya langsung, Ainul Yaqin, M.Pd.I, dosen sekaligus Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Majapahit Mojokerto. Nara sumber pembanding bedah buku ini adalah Ida Rochmawati, M.Fil.I, dosen sekaligus Ketua STIT Raden Santri Gresik. Kegiatan bedah buku ini dihadiri oleh mahasiswa STIT Raden Santri beserta perwakilan Badan Eksekutif mahasiswa dari berbagai kampus di Gresik antara lain BEM UISI, STAI Daruttaqwa, Universitas Gresik, dan INkafa. Kurang lebih 100 peserta turut meramaikan kegiatan ini.

Dalam penjelasannya Ainul Yaqin mengungkapkan bahwa pendidikan Afeksi masih belum menjadi perhatian pendidikan di Indonesia. Pendidikan formal di sekolah masih mengutamakan aspek kognisi, bagaimana peserta didik bisa menguasai materi dan pengetahuan di mana semua aspek pengajaran sampai evaluasi berorientasi pada kognisi. Orang tua juga lebih mementingkan kognisi anak dibanding bagaimana anak memiliki sikap dan memahami nilai-nilai kejujuran, disiplin dan kerjasama sehingga mereka tidak puas hanya menyekolahkan namun juga masih memberikan les-les tambahan untuk anak agar mereka lebih menguasai aspek kognitif ini. Tidak pernah ada satu sekolah yang memberikan tes kejujuran saat penerimaan peserta didik baru. Dan mayoritas pengelola sekolah mengklaim bahwa sekolah mereka, peserta didik mereka sudah memiliki karakter yang bagus, memiliki akhlak yang baik tanpa pernah melakukan tes terhadap peserta bahkan guru-guru mereka apakah memiliki karakter dan standar afeksi yang baik.

Fakta yang ada saat ini memang banyaknya nilai-nilai yang menjadi bagian dari afeksi telah mengalami penurunan seperti nilai kejujuran, ketulusan, saling menghargai maupun nilai toleransi, demikian ungkap Ida Rochmawati. pergeseran nilai-nilai tersebut melahirkan berbagai karakter baru yang banyak melanda generasi muda milenial saat ini yaitu egoisme. Perubahan ini tidak semata-mata salah pendidikan yang ada namun perkembangan teknologi, revolusi industri komunikasi yang revolusioner turut andil dalam membentuk karakter generasi saat ini. Kehadiran informasi secepat kilat mampu memberikan jawaban terhadap semua rasa ingin tahu tentang apa saja sehingga seakan semua hal bisa didapatkan dengan teknologi informasi. Sehingga pendidikan afeksi dalam membentuk generasi era milenila sangat penting dan menemukan momentumnya.

Upaya pendidikan afeksi ini bisa dilakukan baik secara formal maupun nonformal. Secara formal dapat diintegrasikan dalam pendidikan, pembiasaan-pembiasaan yang dapat membentuk karakter bisa dilakukan di sekolah, tidak hanya pembiasaan religious, pembiasaan sikap dan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi perlu diwujudkan dalam satu kegiatan nyata di sekolah. Seperti halnya di Jepang, anak-anak dilatih kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian melalui kegiatan makan siang, di mana mereka antri ambil makanan dengan teratur, makan dengan tertib, membersihkan sendiri-sendiri tempat makan.

Untuk mengimplementasikan pendidikan afeksi ini ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan seperti evocasio yaitu ekspresi spontanitas, ini melatih anak-anak agar memiliki kepekaan terhadap setiap hal yang terjadi di sekeliling mereka dan bertindak sesuai dengan nurani dari dalam diri bukan karena pamrih. Kedua awareness yaitu kesadaran yang dapat menuntun anak untuk bisa mengklasifikasikan diri dengan orang lain, mereka menyadari bahwa mereka hidup di tengah-tengah orang lain, bermasayarakat dan saling membutuhkan. Ketiga moral reasoning yaitu memberikan pemahaman tentang nilai-nilai afeksi dengan logis, mengapa mereka boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu harus dijelaskan dengan konsep yang dapat diterima secara akal, bukan dengan mitos dan ancaman. Keempat komitmen, jika anak telah memiliki ketiga hal di atas maka komitmen menadi penentunya apakah mereka mau melakukan atau mengabaikan nilai-nilai yang telah mereka miliki.

@Ida.R


Berita terkait lainnya:
Mendunia, STIT Raden Santri Menjalin Kerjasama dengan PT Luar Negeri
Kemenristekdikti dan Kementerian BUMN Jalin Kerja Sama Program Magang Mahasiswa Bersertifikat

STIT RADEN SANTRI GRESIK

STIT RADEN SANTRI GRESIK Jl. Dermaga Sungaiteluk Sangkapura Bawean Gresik, 61181, INDONESIA.
Telp +62 325 421 047 | Fax +62 325 421 047 | Email: info@stit-rsg.ac.id

© 2019 IT STIT RADEN SANTRI Follow STIT RADEN SANTRI: Facebook Twitter Youtube